Masa Perintisan
Pada masa itu
Pdt. Harjowasito datang sebagai pendeta konsulen dan bertempat tinggal di
Metro. Situasi ini terjadi sampai perang kemerdekaan selesai tahun 1950.
Sesudah tahun 1950 mulailah kembali terjadi persekutuan dan kebaktian bersama
dengan warga gereja lain di gereja Bambu Kuning.
Pada tahun
1954 yang bertugas pendeta konsulen yaitu Pdt. Siswodwijo. Pada tahun 1957
kebaktian GKJ dilakukan di Bambu Kuning pkl. 16.00 WIB yang kemudian berubah
menjadi pkl. 11.00 WIB.
1 Januari
1958 dibentuk kelompok GKJ Tanjungkarang dengan ketua majelis Bp. Kasmad dengan
jumlah jemaat 63 jiwa (30 dewasa dan 33 anak) yang menginduk di GKJ Metro.1
Januari 1959 GKJ Kelompok Tanjungkarang mendapat bantuan tenaga yaitu Eddy S.
Sihrahmanto sebagai Pembantu Pendeta (PP).
Pendewasaan
![]() |
| GKSBS Tanjungkarang saat ini |
27
Agustus 1961 kelompok Tanjungkarang didewasakan oleh gereja induk di Metro,
mempunyai majelis yang diketuai Bp. Kasmad. PP. Eddy Sihrahmanto dipanggil ke
Metro, menyebabkan pekerjaan majelis lebih berat, karena pelayanan meliputi
daerah-daerah di luar Tanjungkarang. Baru pada tahun 1965 di Tanjungkarang ada
Pdt. Poedjosuwito sebagai pendeta utusan Tanjungkarang yang melayani daerah
Lampung Selatan, baik sebelum maupun sesudah mempunyai pendeta jemaat sendiri.
Pdt.
Poedjosuwito bertugas sampai dipanggil Tuhan pada 3 Desember 1983. sementara
itu Pdt. Sukarwan yang ditahbiskan sebagai pendeta jemaat GKL Tanjungkarang 20
Maret 1970 ditanggalkan dari jabatannya karena adanya pelanggaran hukum gereja
pada 21 Juni 1978.
Pada
masa itu pula datang Pdt. Hoogerwef sebagai pendeta utusan dari Metro bertugas
sebagai pengader, bertempat tinggal di Tanjungkarang tahun 1968-1973. Beberapa
saat kemudian diteruskan oleh Pdt. Yussar Yanto bertugas sampai emiritus tahun
2000.
Setelah
mengalami kekosongan pendeta jemaat selama 6 tahun, pada 3 Juni 1982, Pdt.
Solihin Daniel bertugas melayani sebagai pendeta jemaat sampai dipanggil untuk
melayani di Yayasan Pelaut tahun 1995.
Tempat
kebaktian pada 25 Desember 1974 berpindah dari Bambu Kuning ke Sutan Syahrir
27, yang waktu itu masih berbentuk 2 buah rumah kapal. Waktu renovasi rumah
kebaktian tahun 1976 banyak tantangan dari masyarakat maupun Pemda Bandar
Lampung.
Atas
bantuan saudara-saudara seiman baik di pemerintahan maupun di luar
pemerintahan, kebaktian berjalan terus, dan akhirnya renovasi dapat selesai
bulan Desember 1982 dengan mendapat IMB tahun 1984. Tahun 1995 rumah ibadah
kembali dipugar (renovasi), dan bentuk fisiknya seperti terlihat saat ini.
Pada
masa-masa itu beberapa kelompok GKL Tanjungkarang bergabung dengan GKL
Sidomulyo (Gaya Indah, Batu liman, Umbul Kalang). Dari kelompok Sumber Rejeki,
Margo Agung, Umbul Rejo, yang sebelumnya mempunyai Pembantu Pendeta (PP) Bpk.
Suyatno bersama kelompok Karangsari, Tritunggal, Wawasan, berintegrasi dengan
GKL Way Galih menjadi GKL Tanjungbintang pada tahun 1998 sekaligus dilakukan
pentahbisan Bpk. Suyatno sebagai pendeta jemaatnya.
Sedangkan
GKL Tanjungkarang mentahbiskan pendeta jemaatnya Pdt. Eko Prih Joko Sungkowo,
S.Th pada tahun 27 Agustus 1997, yang sebelumnya melayani di GKL Way Galih.

Post a Comment